Saturday, November 3, 2012

Lapangan Panas Bumi Kamojang Dulu dan Sekarang

Tahun 1913, pembangkit listrik komersial pertama yang dibangkitkan dari energi panas bumi atau geothermal beroperasi di Larderello, Italia. Pembangkit tersebut menghasilkan listrik sebesar 250 kilowatt (kW) dengan menggunakan 2 sumur panas bumi bertemperatur 200 hinggga 250 derajat Celcius.

Mengetahui keberhasilan Larderello, Belanda pun mulai ikut melirik energi panas bumi ini. Indonesia yang saat itu adalah negeri jajahan Belanda menjadi daerah yang dilirik. Belanda mulai melakukan survei untuk mencari potensi panas bumi di sekitar daerah Garut, tepatnya di area Kawah Kamojang. Tropenmoseum menyimpan koleksi foto-foto yang menggambarkan keadaan-keadaan awal di sekitar Kawah Kamojang dalam rentang waktu 1910 hingga 1940. Berikut ini salah satu potret yang menggambarkan kegiatan Belanda di sekitar Kawah Kamojang.

A trip by car to the Kawah Kamojang (1920-1937)
A trip by car to the Kawah Kamojang (1920-1937)
Sumber: Tropenmoseum

Seiring dengan kegiatannya di Kawah Kamojang, Belanda membangun rumah di sekitar Kawah Kamojang tersebut yang diperuntukkan bagi Dinas Vulkanologi (Vulkanologische Dienst) saat itu. Berikut ini adalah koleksi foto dari Tropenmoseum yang menggambarkan keadaan tersebut.

Het huis van een mantri van de Vulkanologische Dienst op de Kawah Kamojang
Het huis van een mantri van de Vulkanologische Dienst op de Kawah Kamojang 1917-1931
Sumber: Tropenmoseum

Belanda saat itu berhasil membuktikan bahwa di sekitar Kawah Kamojang benar terdapat potensi energi panas bumi atau geothermal. Pemboran sumur panas bumi pun dilakukan oleh Belanda. Pada tahun 1926, Belanda mengebor sumur yang saat ini dikenal sebagai sumur KMJ-3. Sumur tersebut berhasil menyemburkan uap panas ke permukaan. Berikut ini adalah foto dari sumur KMJ-3 pada tahun 1926.

Sumur KMJ-3 Tahun 1926
Sumur KMJ-3 tahun 1926, sumber: Tropenmoseum.

Kegiatan pengembangan panas bumi yang dilakukan oleh Belanda di Kawah Kamojang tidak berlanjut karena terjadinya Perang Dunia II yang berujung dengan merdekanya Indonesia pada tahun 1945. Setelah merdeka, proyek ini juga tidak dilanjutkan oleh pemerintah Indonesia hingga beberapa puluh tahun kemudian.

Baru pada tahun 1983, sebuah pembangkit listrik tenaga panas bumi mulai beroperasi secara komersial di daerah Kamojang. Pembangkit pertama tersebut adalah PLTP Kamojang Unit-1 dengan kapasitas 30 megawatt (MW). Pembangkit ini sekaligus menjadi pembangkit listrik tenaga panas bumi pertama di Indonesia.

Lapangan panas bumi Kamojang memiliki karakteristik lapangan dominasi uap. Fluida produksi dari lapangan ini telah berbentuk uap kering ketika sampai di permukaan. Hingga tahun 2012 ini, lapangan panas bumi Kamojang telah beroperasi selama 30 tahun. Saat ini terdapat 4 unit pembangkit yang beroperasi di lapangan tersebut dengan total daya listrik yang dihasilkan adalah 200 MW.

Beberapa bulan lalu saya berkunjung ke Kawah Kamojang dan memotret sumur KMJ-3 yang dahulu dibor oleh Belanda. Sumur ini masih menyemburkan uap panas hingga saat ini. Berikut ini adalah potret dari sumur KMJ-3 yang saya ambil beberapa bulan lalu.

Sumur KMJ-3 Saat Ini (2012)
Sumur KMJ-3 Saat Ini (2012)

PT Pertamina Geothermal Energy yang mengoperasikan lapangan Kamojang saat ini tetap membiarkan sumur KMJ-3 serta daerah di sekitar Kawah Kamojang sebagai tempat wisata. Jika dibandingkan dengan foto-foto Kawah Kamojang tempo dulu dari Tropenmoseum di atas, bentang alam di sekitar Kawah Kamojang tempo dulu dan sekarang terlihat hampir sama saja. Berikut ini adalah potret bentang alam di sekitar Kawah Kamojang yang saya ambil beberapa bulan lalu.

Area sekitar Kawah Kamojang sekarang (2012)
Area di sekitar Kawah Kamojang sekarang (2012)


Penulis: Robi Irsamukhti

Copyleft
Silahkan mengutip, mengkopi bahkan menge-teh, dan menyebarkan materi ini selama menyebutkan penulis dan sumbernya.

1 comment:

Note
Komentar akan ditampung terlebih dahulu sebelum diterbitkan.